SIDOARJO – Preschool Nurul Hikmah Sidoarjo sukses menggelar seminar parenting akbar bertajuk “Parenting Menuntun Bukan Hanya Menjaga: Seni Parenting Islami untuk Generasi Alfa” pada hari Sabtu, 25 Oktober 2025. Acara yang dihadiri oleh seluruh wali siswa ini membekali peserta dengan panduan praktis dan spiritual untuk mendidik anak di era digital.
Seminar yang berlangsung di Auditorium Nurul Hikmah ini menghadirkan narasumber utama, Bunda Siti Fauziah, M.Si, CBHC, Konselor Keluarga dan Trainer Parenting.
Paradigma Menuntun vs Menjaga
Kepala Sekolah Preschool Nurul Hikmah, Ustadzah Novi, menekankan pentingnya pergeseran fokus pengasuhan dari sekadar “menjaga” ke “menuntun” anak.
Bunda Siti Fauziah membuka sesi inti dengan refleksi mendalam, menegaskan bahwa “Tarbiyah Diri Lebih Penting Sebelum Mentarbiyah Anak”. Beliau juga menggunakan simulasi meremas kertas untuk mengilustrasikan bahwa “Luka karena pengasuhan tidak selalu terlihat nyata, tapi bekas di hatinya bisa tinggal selamanya” , karena hati anak seperti kertas yang bekas remasannya tetap ada meski sudah dibuka kembali.
Seminar ini menguraikan dua amanah utama orang tua:
Menjaga (Hifzhun): Melindungi dan meneguhkan iman anak dengan keteladanan, sesuai QS. At-Tahrim: 6. Ini mencakup menjaga akidah, hati anak dari luka pengasuhan, dan memastikan anak melaksanakan syariat Islam.
Menuntun (Tarbiyah): Menanamkan dan membiasakan akhlak dengan cinta, sebagaimana dicontohkan dalam dialog Nabi Ibrahim dengan putranya (QS. As-Saffat: 102). Menuntun berarti memberi ruang tumbuh, bersabar pada proses, dan menghargai sekecil apapun perkembangan yang dicapai.
Menggali Fakta Generasi Alpha
Materi juga mengupas tuntas fakta-fakta Generasi Alpha (anak yang lahir mulai 2010 ke atas) yang tumbuh sepenuhnya dalam ekosistem digital:
Menurut McCrindle Research (2022), 90% anak Generasi Alpha terekspos layar sebelum usia 2 tahun.
Mereka memiliki rentang fokus rata-rata hanya 8 detik.
Mereka lebih cepat belajar dari video visual dibandingkan kata-kata lisan.
Narasumber juga mematahkan beberapa mitos parenting:
Mitos: Kalau anak diam, berarti nurut. Fakta: Bisa jadi, karena anak takut bicara.
Mitos: Tanpa marah, anak tidak disiplin. Fakta: Disiplin lahir dari pemahaman, bukan ketakutan.
Tiga Langkah Menuntun dengan Seni Parenting Islami
Bunda Siti Fauziah menutup seminar dengan memberikan tiga langkah praktis dalam menuntun anak:
enuntun dengan Cinta (Mahabbah): Sesuai HR. Bukhari, “Siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi”. Cinta harus dirasakan, bukan hanya diucapkan. Praktiknya dengan menyamakan posisi saat bicara, menatap mata anak saat bercerita, dan sering mengucapkan rasa syukur atas kehadiran mereka.
Menuntun dengan Teladan (Qudwah): Anak belajar bukan dari nasihat, tapi dari contoh (QS. Al-Ahzab: 21). Orang tua perlu menunjukkan kelembutan, kejujuran, dan kesabaran yang ingin dicontoh anak.
Menuntun dengan Doa: Doa adalah “jalur langit” yang menembus hati anak. Doakanlah prosesnya (“Semoga Allah mudahkan kamu belajar dengan sabar dan bahagia”) daripada sekadar mendoakan hasilnya (“Semoga kamu juara”).
Di akhir acara, seluruh wali siswa didorong untuk memperkuat peran mereka sebagai murabbi (pendidik utama) di rumah, dengan prinsip bahwa “Pengasuhan bukan untuk menundukkan anak, tapi menundukkan ego kita sebagai orang tua agar lebih sabar menjaga dan menuntun mereka”.