Mengokohkan Fondasi Ilmu dan Karakter: Sekolah Nurul Hikmah Sidoarjo Tingkatkan Budaya Literasi Melalui Pembinaan Guru
Sidoarjo – Dalam upaya tiada henti untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, Sekolah Nurul Hikmah Sidoarjo menggelar sebuah acara Pembinaan Guru yang berfokus pada penguatan budaya literasi. Acara yang diadakan pada hari Jumat, 13 September 2025, ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif dan berwawasan luas.
Acara yang berlangsung di Aula Sekolah Nurul Hikmah ini dihadiri oleh seluruh jajaran guru dari berbagai tingkatan, mulai dari Daycare, Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-Kanak (TK), hingga Sekolah Dasar (SD). Kehadiran para pendidik dengan semangat tinggi ini menunjukkan komitmen kolektif dalam meningkatkan kualitas pengajaran demi masa depan siswa-siswi.
H. Nur Hidayat, S.Pd., MM., Ketua Yayasan Nurul Hikmah Sidoarjo, membuka acara dengan pesan yang menyentuh hati. Beliau menegaskan bahwa literasi adalah jantung dari pendidikan. “Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi adalah kemampuan untuk memahami dunia, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berkreasi,” ujarnya. “Guru adalah teladan. Oleh karena itu, kita harus terus mengasah diri agar dapat menjadi agen perubahan yang menginspirasi anak-anak untuk mencintai ilmu dan pengetahuan.”
Dr. Tirto Adi, M.Pd., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, hadir sebagai narasumber utama dan memberikan wawasan yang sangat berharga. Dalam sesinya, beliau memaparkan strategi-strategi inovatif untuk membangun budaya literasi yang holistik di lingkungan sekolah. Beliau menekankan bahwa literasi harus terintegrasi dalam setiap aspek pembelajaran, bukan hanya sebagai mata pelajaran terpisah.
Beberapa poin krusial yang disampaikan oleh Dr. Tirto Adi meliputi:
Literasi dalam Semua Mata Pelajaran: Mendorong guru untuk tidak hanya fokus pada literasi bahasa, tetapi juga literasi numerasi, sains, dan digital. Misalnya, guru matematika bisa meminta siswa membaca dan menganalisis grafik, sementara guru sains mendorong mereka untuk membaca jurnal ilmiah sederhana.
Lingkungan yang Kaya Literasi: Menciptakan sudut baca yang menarik di setiap kelas, memperbarui koleksi buku di perpustakaan, dan memajang karya-karya siswa di dinding sekolah untuk mengapresiasi kreativitas mereka.
Keterlibatan Orang Tua: Menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung kegiatan literasi di rumah, seperti membacakan buku cerita sebelum tidur atau mengajak anak berdiskusi tentang apa yang mereka baca.
Selama sesi pembinaan, para guru tampak sangat antusias. Mereka aktif berdiskusi, mengajukan pertanyaan, dan bertukar pengalaman tentang tantangan serta keberhasilan dalam menerapkan budaya literasi di kelas masing-masing.
Acara ini menegaskan bahwa Sekolah Nurul Hikmah Sidoarjo tidak pernah berhenti berinovasi. Dengan adanya pembinaan ini, diharapkan para guru akan semakin termotivasi dan terbekali dengan metode-metode pengajaran yang modern dan efektif. Tujuannya jelas: menciptakan lingkungan sekolah yang tidak hanya mengajarkan, tetapi juga menginspirasi. Sebuah lingkungan di mana setiap siswa tumbuh menjadi pembelajar seumur hidup yang berakhlak mulia, siap menghadapi masa depan, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.